View on Path

Advertisements

Tags

, , , ,

“Katanya, dari beberapa novel detektif yang dibacanya, ia menarik kesimpulan: untuk membuat cerita detektif, kau harus mahir membuat orang kebingungan. Dan dengan kesigapan serupa Yesus, tokoh detektifmu datang menjadi juru selamat untuk mengurai kebingungan yang kau buat dan memberikan penjelasan-penjelasan masuk akal yang kadang tidak memuaskan pembacamu, tetapi mereka merasa senang karena telah berhasil keluar dari kebingungan.” (Hal. 125)

Hmmm. Unik. Banyak penjelasan yang hampir diabaikkan gara-gara terkesan sepele tapi ternyata berhubungan penting sama cerita. Banyak joke literatur dan budaya pop yang kadang asing karena belum ngikutin. Terkesan sembarangan dan berputar-putar tapi ternyata malah jadi twist yang tidak terduga. Bikin penasaran mau dibawa kemana. Terus berakhir πŸ˜’πŸ’”

Tidak untuk semua orang. Tapi boleh dicoba.

View on Path

Tags

, , ,

“No more Internet. No more social media, no more scrolling through litanies of dreams and nervous hopes and photographs of lunches, cries for help and expressions of contentment and relationship-status updates with heart icons whole or broken, plans to meet up later, pleas, complaints, desires, pictures of babies dressed as bears or peppers for Halloween. No more reading and commenting on the lives of others, and in so doing, feeling slightly less alone in the room. No more avatars.” (Ch. 6)

Kebayang ga sih era millenial sekarang berhenti tiba-tiba? Kuota habis/wifi mati/koneksi lelet aja udah uring-uringan. πŸ™ˆ

The world after pandemic. Yang bikin deg-degan waktu baca sebenernya cara penceritaan penulisnya yang yahud. Kayaknya cara penulisan kaya gini emang menarik. Maju mundur loncat sana sini cantik.

 

View on Path

Tags

, ,

“Bahkan, keterpukauan ini sudah meyerangku setengah hari sebelum memasuki Bajang Kencana pintu gerbang utama Kotaraja Gilingwesi jika kau memasukinya dari utara. Gara-garanya, aku singgah sebelumnya di Candi Teratai yang bertingkat tujuh yang tak jauh dari gerbang kota. Penamaannya sungguh mengesankan. Dengan saluran-saluran air selebar tiga tombak yang mengelilinginya, candi ini memang sungguh mirip sekuntum bunga teratai besar yang terapung di atas danau.” (hal. 108)

Anjirrr. Wait. What? Dimana sih settingnya? Kapan sih ceritanya? So foreign yet so familiar. So real (and brutal) yet so mythical. Akhirnya semalem kelar juga baca buku ini setelah tertunda sama buku lain dan terdistraksi kehidupan. Keren. Recommended. Dan kata-kata Bahasa Indonesia yang kaya asik banget di buku ini. Juara!!

Impresi lengkap : https://www.goodreads.com/review/show/1990794782
PS : kayanya jangan dibaca pas puasa deh. Untuk DEWASA πŸ™Š

View on Path

(late) Birthday hamper.

Paling seneng kalo dapet kado yang bungkusnya aja udah bikin seneng. Jadi double happiness. Makanya seneng banget kalo disuruh bungkus dan bikin kartu ucapan πŸ˜‚. Apalagi kerjaannya nontonin unboxing subscription box di yutub sama browsing pinterest.

Nah, kemudian punya temen yang hobi adu kefancy-an dan bisa menghargai yang begini-begini. Super telat ngasih kado. Jadi aja ga sadar udah jam 2 pagi. Dan walopun isinya remeh tapi bikin hepi pas bukanya kan bikin hepi yang ngasih juha.

Seru juga ya jadi kurator subscription box gitu. Hmm…

View on Path

Novelnya Mas Eka ini punya alur yang bisa diibaratkan kaya kembang api. Udah baca warning di bungkusnya, tetep kaget sama ledakkan pertama, tapi takjub dan happy. Ledakkannya menghasilkan ledakan2 lainnya yang punya warna dan bentuk berbeda, tapi masih dari satu kembang api yang sama. Yang seolah berbeda tapi menjadi satu pertunjukkan kembang api yang lengkap dan setelah padam bikin yang liat cuma bisa bilang, “Waah!”

Berniat sharing ini sejak lama tapi pas Ramadhan ga mau ngasih rekomendasi ini. Bahasanya lumayan bikin nelen ludah soalnya. Bahkan ada warning 21+ di salah satu bukunya πŸ™ˆ Yah, ga usah dipikirin itunya lah. Cerita-ceritanya menarik! Super

View on Path

Jakarta Walking Tour edisi Jatinegara alias wilayahnya Meester Cornelis (orang kaya) – 12 Maret 2016
*for future reference*

Stasiun Jatinegara – Rumah Meester Cornelis (kelewat 😒) – Vihara Bio Shia Jin Kong (sekarang pengurusnya generasi ketiga dan muslim) – Masjid Al Anwar (masjid gotong royong 12 kampung) – Kapel Bunda Maria Fatima – Kampung Pulo di bantaran Ciliwung – Vihara Amurva Bhumi di Pasar Lama Jatinegara – Gereja Koinonia (gereja yang dibangun sama orang kaya yang ga suka sama khotbah di gereja sebelumnya) – Monumen Perjuangan Jatinegara

Pasar Jatinegara sendiri isinya menarik pisan sampe ada nemo dan biota laut lain yang kelegalan penjualannya dipertanyakan. 😱Jangan lupa nyobain Gado-Gado Jatinegara yang katanya legendaris.

Poin penting : jadilah orang kaya πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»
*lumayan jauh juga walking tour yang ini*
Cek twitter @jktgoodguide yang tertarik 😁 – at Jatinegara

View on Path

Tahun pertama di Indonesia ngadain Harry Potter Book Night. Tahun lalu ada 10.500 acara ini di dunia. πŸ€“ Not bad lah. Walopun awal2 agak canggung dan krik krik karena ga punya kenalan, begitu games langsung heboh bareng dan keluar semua Potterheads-nya. Bangga nggak sendirian yang hafal trivia2 HP. πŸ˜šπŸ‘πŸ»

Sedih semua kostum HP ada di rumah. Sedih ga bawa tongkat. Sedih cuma pake baju seadanya. Sedih kesela satu orang buat dapet hadiah. Tapi seru. Thank you GPU dan Kinokuniya. Setidaknya bikin optimis bakal ada seseruan selanjutnya. Aamiin 😍

PS : foto nyomot dari sana sini. Buat pribadi gapapa lah ya 😌 – at Kinokuniya

View on Path

“All grown-ups were once children… but only few of them remember it.”
Le Petit Prince – Antoine de Saint-ExupΓ©ry

Since I still can not find the second star to fly to Neverland, being grown-up who remember is not bad idea.
And my friends, for all the wishes and the laughs and joy, I thank you. Best wishes for all of you also 😘
Seperempat abad 😀

View on Path