Siang ini gw menonton film animasi berjudul  “Cloudy with a chance of meatballs”. Sebenernya ni film udah lama pengen gw tonton. Tapi baru sempet sekarang. Hehe.

Hmm. Seperti biasa, hasrat untuk menulis selalu timbul gara2 nonton film yang menurut gw OK.  Dan menurut gw film ini jelas OK. Hmm, seperti film animasi lainnya, film ini pun menghadirkan cerita sederhana yang bermakna. Hehe. (Yup. Ini salah satu alasan gw selalu suka nonton film animasi.) Dan nonton film animasi, itu artinya lo harus siap2 buat ketawa, terharu, terperangah, terkejut, dan banyak hal yang bikin lo menikmati hidup. Hehe.

Film ini bercerita tentang anak jenius bernama Flin Lockwood. Seperti kebanyakan nasib anak genius di film2 hollywood, mereka selalu dianggap nerd. Dan ini berlanjut sampai dewasa karena penemuan2 flint yang ajaib (kata lain dari aneh). Cerita berlanjut sampai Flint beranjak dewasa dan menciptakan awan yang dapat membuat hujan makanan. Dan Sam Sparks, reporter jaringan berita ramalan cuaca yang ditugaskan di kota kecil Flint, Swallow Falls menjadi bumbu cinta dan cerita yang menarik. Dan tokoh antagonis disini adalah walikota yang serakah dan memaksa Flint untuk membuat banyak makanan (dan mengganti nama kota menjadi Chew and Swallow). Dan masalah memuncak saat mesin dalam keadaan berbahaya dan membahayakan dunia dengan badai makanan raksasa.

Dari film ini kita bisa belajar tentang menjadi diri sendiri. Kisah Sam yang weather-addict (maksudnya tergila2 sama seluk beluk cuaca. Hehe), akhirnya menutupi jati dirinya yang genius gara2 ditertawakan teman2nya yang menganggap ia seorang NERD. Dan Flint mengajarkan kita bagaimana menjadi diri sendiri.

Hmm, gw suka teori ‘being yourself‘. Haha. Tapi itu cuma teori. Dalam kenyatannya, gak mudah buat jadi diri sendiri. Kita yang sudah di cap sebagai mahluk sosial, selalu berharap banyak orang suka sama kita. Dan setiap orang memiliki level masing2 dalam melihat seseorang. Kadang, kita gw harus menyesuaikan dengan keadaan untuk membuat dilihat di mata seseorang. Haha. Dan by the way, banyak orang yang kurang begitu suka kalo gw terlalu menunjukkan gw yang sebenarnya. Emang kepribadian gw yang salah, ato di tempat yang salah? Who knows. Hehe.

Film ini juga menunjukkan cara seorang ayah mencintai anaknya. Dia tidak terlalu bisa mengeluarkan cinta dalam kata2. Dia selalu punya pikiran yang terbaik untuk anaknya. Dan kadang, kita sebagai seorang anak, menganggap beliau terlalu mengatur. Hufht! Itulah perlunya komunikasi.🙂

And it’s OK to have a happy ending strory. Tapi sebenernya masih ada yang gw tunggu di bagian ending. Tapi masih tetep bagus ko. They just happily ever after. Hmm, buat nilai, gw kasih 8,9 deh. Hehhe.

And P.S. : BON APPÉTITE.🙂