Gw kena flu (poor me) dan baru aja dapet My Sister’s Keeper (2009). Begitu mau nonton film drama (yang katanya) sedih ini, gw langsung memindahkan tissue ke samping gw. Yahh, biar gak keganggu aja sama lendir yang keluar dari hidung gw. Hehe.

Anna Fitzgerald looks to earn medical emancipation from her parents who until now have relied on their youngest child to help their leukemia-stricken daughter Kate remain alive.

I’ve heard this film so many times. Review dari majalah, pendapat temen (yang katanya sampe nangis2 segala), bahkan kalo gak salah sempet baca bagian belakang buku dan hampir mau beli (masih hampir sih. hehe).  Hmm.  And I just can say thank God I watched this movie.

Walopun udah banyak baca dan denger tentang film ini, gw gak punya ekspektasi apapun. Jadi pas mulai, gw bener2 menikmati film ini. Bagian filmografi jelas OK lahh.  Ada Cameron Diaz, Abigail Breslain, Alec Baldwin, dan semua castnya menyatu dalam ceritanya. recommended pokoknya mah. Hehe. I don’t wanna talk too much about that by the way. Gw cuma mau berbagi apa yang gw pikirkan tentang para tokoh di cerita ini.

**May Contains Spoiler**

Sarah (Kate’s mother) : ibu mana yang pengen kehilangan anaknya? Dia bakal berjuang mati2an buat menyembuhkan anaknya. Yeah, about Anna I’m pretty sure that Sara won’t did that too. Tapi dia berani ngambil resiko. Kaya yang dia bilang di court : “But I have to think about my entire family.

Bagian yang bikin ragu emang pertanyaan who stand for Anna. *angkat bahu*

Anna (Kate’s sister) : di bagian dia ngajuin tuntutan tentang medical emancipation, hampir semua orang bakal setuju. Tapi keputusannya juga banyak orang mikir she’s so mean not to think about her sister side. Itu baru di awal cerita. Di ending gw mikir hebat banget jadi sosok Anna. Yahh, mungkin itu yang namanya keluarga. She’s engineered yes, but she’s part of family of course.

Jesse (Kate’s brother) : bagian dari keluarga yang ternyata punya masalah juga. He’s dyslexia. Tapi Kate minta maaf sama dia karena merebut perhatian kedua orangtuanya. It’s difficult being Jesse. Bahkan orang tuanya gak sadar dia pulang telat gara2 mikirin Kate. Tapi dia tetep memahami. That’s why we call it family.

Kate : cukup susah jadi Kate. She know she’s dying. Dia punya keluarga yang hebat. Dia mungkin mikir kalo dia udah merepotkan banyak orang. Dia jelas berterimakasih pada semuanya. Dia ingin semuanya ikhlas. She’s know her time’s coming.

It’s all about family, right? Ini ada di dunia nyata. Keluarga tetap menjadi tempat berbagi dan tetap kembali.

Growing apart. Growing together. Sisters family are forever. (hehe)