Pikiran sore, masih 4 Maret 2010. Hari ini gue mendengar DPR disebut berkali-kali. Bikin heboh apalagi si ni DPR? (maklum ga ada TV di kost)

Pagi hari dosen wali gue mengepost link di facebook. Link berita dari kompas mengenai kehebohan wakil rakyat saat mikrofon mati (http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/03/04/03491328/antara.mikrofon.dan.suara.wakil.rakyat). Yah, masalah kematian mikrofon ini dibawa sampai ke sidang paripurna, bahkan dianggap adanya konspirasi agar menahan dewan menyampaikan pendapat. Para petinggi itu saling berteriak akan pemasungan penyampaian pendapat. Bla bla bla.

Ya. Secara logika seorang idealis, itu suatu hal yang benar. Tapi secara kenyataan, masih dipertanyakan. Pendapat siapa yang akan disampaikan? Pendapat rakyat? Pendapat partai? Yah, mudah-mudahan sih pendapat rakyat. Tapi kan rakyat gak punya mikrofon, terus bagaimana mereka bisa bilang itu pendapat rakyat? Hmm, mungkin mereka telah menaruh mikrofon di tempat-tempat tersembunyi yang bisa membuat suara rakyat terdengar kali ya (imajinasi pembaca sci-fi + konspirasi novel mulai meliar).

Tapi mikrofon memang sesuatu yang penting di dunia perpolitikan Indonesia, seperti yang ada di akhir berita :

Tanpa mikrofon, mungkin bangsa ini tidak pernah mendengar pidato-pidato menggelegar Bung Karno. Tanpa mikrofon, mungkin orasi-orasi Bung Tomo yang menyulut semangat arek-arek Surabaya dalam pertempuran melawan penjajah tidak pernah terdengar. Tanpa mikrofon pula, siapa bisa mendengar pemikiran atau suara para wakil rakyat?

Kali kedua saya mendengar saat rapat divisi pengabdian masyarakat HMFT. Sebuah selorohan dan permainan logika yang cukup mengena di otak saya. Dimana-mana, wakil selalu ada di bawah pimpinan. Ketua lebih berkuasa dari wakil ketua, gubernur lebih berkedudukan tinggi daripada wakil gubernur, presiden lebih memiliki kedudukan yang lebih penting dari wakil presiden, dan sebagainya dan sebagainya. Lalu, kenapa WAKIL rakyat lebih dianggap kedudukan penting dan lebih tinggi dibanding rakyat?? (…)

Selanjutnya saat perkuliahan. Lagi-lagi ada dosen yang menyindir kelakuan wakil rakyat di senayan sana. Yah, semoga mereka sadar kalau mereka dilihat, diperhatikan, dan diperbincangkan diluar sini. Bahwa mereka masih memiliki pimpinan tertinggi yang bernama rakyat. Masih memiliki para mahasiswa yang senang menuliskan ‘bacotannya’ di blog yang tak jelas ini.