Tags

, , ,

Kisah enam anak manusia di rumah kos lingkungan keraton Yogyakarta–etnis yang berbeda etnis, budaya, dan agama–mencari jati diri dan mengurai masalah hidup mereka masing-masing.

Yudhistira (Yogyakarta), Olivia (Jakarta), Gerson (Ambon), Yahya (China/Pontianak), Karta (Medan), dan Tarjo (Madura).

Tak banyak novel Indonesia yang menarik minatku. Dan entah kenapa Yogyakarta sangat menarik. Entah karena judulnya, atau kelabilan masa muda? Hahaha. Tapi judulnya memang cukup membuatku berminat.

Dari segi cerita, novel ini masih menggunakan formula chick lit yang biasa–bahkan terlihat dari covernya. Para karakternya masih dibalut kesempurnaan tokoh novel genre ini. Laki-laki dengan postur tubuh nyaris sempurna, atau setidaknya terbentuk, attitude yang menjadi idaman setiap wanita (dalam novel-novel yang pernah kubaca), layaknya gentleman sejati. Dan para tokohnya bisa dibilang berada dalam ‘kasta‘ yang setara.

Tapi harus kuakui, memang menarik membuat Yogyakarta sebagai latar tempat. Dan well, itulah Yogyakarta dari mata sang penulis mungkin. Yogyakarta yang dalam nuansa ketradisionalan dan ke-Indonesia-annya telah bergerak sebagai kota yang tak luput dari kata globalisme.

Hal lain yang membuatku tertarik adalah sebuah notes kecil di cover depan : Akan difilmkan! Bahkan ada formulir untuk castingnya di halaman terakhir. Sempat tergiur juga untuk sekedar mengisi dan mencoba peruntungan. Tapi toh aku sadar diri. Postur dan kelakuanku jauh berbeda dengan para tokohnya. Haha. Lagi pula aku melihat Yogyakarta tak sama seperti mereka.

Owiya, ada satu kesamaan antara aku dan mereka. Ada bagian hidupku yang memerlukan sebuah kesendirian. Sebuah waktu untukku berpikir, merenung, dan diam. Aku tak memiliki permasalahan berat seperti mereka, atau aku tak merasa? Yang pasti aku kadang perlu menjadi diriku sendiri. Lebih sering mungkin.

Dan entah kenapa, sepanjang aku membaca, pikiranku melayang ke imajinasi film. Bahkan otakku tak berhenti memikirkan Widyawati akan sangat cocok berperan sebagai Ananda Kamila, ibu kost keturunan ningrat. Dan seorang aktris senior yang selalu berperan sebagai pembantu dan tak dapat kuingat namanya, akan sangat cocok berperan sebagai Sekar. Untuk masalah karakter lain, banyak aktor dan aktris muda berbakat dan berpostur OK untuk peran ini. Berharap saja sineas yang menggarap film ini memiliki jiwa idealis, tak hanya memikirkan keuntungan dan akhirnya membuat film ini layaknya film kelas B yang teronggok di sudut kecil ingatan orang Indonesia. Cerita dan materinya dapat dibuat menjadi film yang menjanjikan.

Dan akhirnya, itulah Yogyakarta. Sebuah kota yang masih berjubah tradisional, namun kreatif dan berpikiran modern. Dan lagu dari Kla Project menemaniku menuliskan pikiranku. Yogyakarta.

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja

Di persimpangan langkahku terhenti

Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila

Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …

Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati