Tags

, , , , , , , , ,

Udah lama denger kalo Supernova adalah novel Indonesia yang fenomenal. Dan baru beberapa minggu kemaren gue dapet buku-nya dan akhirnya ngerti kenapa novel ini dibilang fenomenal. Karya Dewi ‘Dee’ Lestari ini emang super duper keren!! Dari 3 buku yang sudah terbit, masing-masing buku memiliki keunikan yang berbeda. Tapi satu hal yang sama : bikin dahi mengkerut di awal, dibuat penasaran kemudian, terpana di akhir, dan ditutup dengan keinginan untuk nambah lagi dan lagi.

———————————————————————————————————

Buku 1 : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh 

Inilah yang akan lahir jika dongeng, cinta, dan ilmu fisika menjadi satu cerita. Dee menyajikan sebuah novel romance berpadu dongeng, tapi dengan pendekatan ilmiah. Nama-nama dewa fisika macem Schrodinger dan lain-lain muncul dengan indahnya di novel ini. Walaupun bikin pusing, tapi cerita dengan sudut pandang loncat-loncat dan bikin penasaran apa hubungan tiap chapternya (atau Dee pake istilah keping), bikin ga bakal rela buat nutup bukunya.

Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh memaksa gue untuk mengikuti pemikiran ilmuwan dan sastrawan. Kerumitan kehidupan dan cinta yang diceritakan dengan bahasa kayangan. Diselingi nuansa glamour yang memabukkan. Kemudian dicampur dengan memasuki dunia dewa Fisika, yang bikin dahi berkerut, tapi sangat menggoda untuk dimasuki. Dee berhasil membuat teori-teori Fisika menjadi sangat indah dan menarik untuk dimasuki. Gue selaku anak Teknik Fisika (Engineering Physics), baca buku pertama ini berasa baca materi kuliah. Seandainya aja semua materi kuliah gue Dee yang nulis. Cepet kelar deh kuliah. Hahaha.

———————————————————————————————————

Buku 2 : Akar

Gue gak siap!! Setelah Buku #1 yang bikin dahi berkerut karena indahnya ilmu Fisika, semuanya berubah. Kali ini sudut pandang religius yang sangat dekat dengan Budhisme menjadi daya tarik utamanya. Dee mengajak kita menjelajahi pikiran dan pengalaman sang tokoh dengan pendekatan cerita yang sama sekali baru buat gue. Gak ada tanda petik untuk kalimat langsung.

Awalnya, untuk orang yang cukup rese mengenai tanda baca, gue ngerasa hal itu sangat annoying (bahkan sempet takut yang gue beli adalah produk gagal. hhaha). Tapi ternyata disinilah sentuhan Dee benar-benar membuktikan lagi bahwa Supernova benar-benar super. Sensasinya yang ditimbulkan oleh tak adanya tanda petik sangat mengena. Kita akan benar-benar merasa berkelana dalam otak, pemikiran, dan pengalaman Bodhi. Kita jadi bener-bener ngerasa bahwa kita adalah, bukan hanya bagian dari cerita, tapi bagian dari karakter itu sendiri. Such a great sensation.

Nilai tambah yang bikin gue makin kagum adalah cara Dee bercerita tentang negara-negara Asia yang ada di pengalaman sang tokoh utama ini. Dee kaya udah pernah keliling dan mengalami pengalaman yang sama dengan sang tokoh. Wow.

——————————————————————————————————–

Buku 3 : Petir

Yang ini gue sudah cukup mempersiapkan diri. Dari awal udah penasaran, dunia apa lagi yang akan gue masuki. Dan tapi tetep aja Dee berhasil memberikan kejutan. Dari buku #1 dan #2 yang benar-benar membuat dahi berkerut dalam, cara Petir diceritakan sangat lah ringan. Tapi jangan salah sangka. Hal ini malah bikin dahi gue berkerut semakin. Apa sebenarnya yang dimaui oleh Dee kali ini? Hahaha.

Dunia Electra sangat terasa dekat dengan kehidupan orang Indonesia. Kadang bahkan dia ngampung pisaaan. Hahaha. Tema yang diangkat adalah perdukunan dan mistisisme (ada kata gini ga sih? hahaha). Kekonyolan dan kesederhanaan dari cara bercerita Dee di buku ketiga ini gak bikin isinya jadi kosong. Semua aspek sederhana dan konyol dan dekat dengan Indonesia malah bikin Petir memberikan kecerdasan yang baru.

———————————————————————————————————

Dan itu hanyalah sekelumit sensasi yang gue rasain pas baca. Penjelasan super singkat di atas ga ngegambarin seberapa mengagumkannya karya Dee ini. Sensasi yang emang kerasa kalo lagi baca. Haus akan halaman dan cerita selanjutnya. Mungkin lo bakal dapet sensasi yang berbeda. Who knows?😀

Dan dari ketiga buku itu bakal ada benang merah besar. Gak sabar saat semua tokoh dalam buku ini saling mengaitkan benang merahnya. Gak sabar pengen baca buku selanjutnya : Partikel. Gak sabaaar~