Tags

, , , , , ,

Tidak ada gunanya mempersiapkan diri saat membaca Supernova. Itu yang akhirnya bisa gue simpulkan. Bagaimanapun, otak gue akan selalu ‘diledakkan’ oleh karya Dewi Lestari. Ikuti saja ceritanya.

Gue pernah cerita kalo selalu ada yang baru di Supernova kan? Setiap keping di Supernova selalu memberikan ledakan yang berbeda. Begitu juga dengan buku keempat ini : Partikel.

Kali ini tokoh utama-nya bernama Zarah. Seorang perempuan Sunda yang memiliki hubungan sangat erat dengan alam. Hubungan misterius, dan spesial. Zarah mengenalkan kita pada sudut pandang baru tentang Bumi dan kehidupan manusia.

High fiction. Itu yang pertama kali ada di otak gue saat akhirnya tahu tema utama perjalanan Zarah. Fiksi-fiksi dengan genre fantasi tingkat tinggi. Fantasi yang lebih gue kenal sebagai milik peradaban bangsa Eropa/Amerika sana dibawa ke dunia Zarah dengan sangat alami. Biasanya, saat ada penulis Indonesia yang berusaha menceritakan genre ini, gue selalu merasa aneh. Gak cocok. Tapi Dee berhasil membentuk Zarah dengan budaya Indonesia-nya sebagai satu kesatuan dengan seluruh bangsa di Bumi. Layaknya ley line. Kita masih saling terhubung.

Satu hal yang gak bisa terlewatkan dari ledakan Partikel ini, ada percikan familiar dari tiga buku sebelumnya. Jejak-jejak pengalaman yang gue rasakan saat baca tiga buku awal Supernova, kembali dihadirkan di sini.

Percikan Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh bisa kita rasakan pada diskusi Zarah dan Firas tentang dunia Biologi, yang mengingatkan kita akan diskusi Ruben dan Dhimas. Rumitnya dunia science diramu sedemikian sehingga menjadi begitu menggoda. Diskusi yang membuat gue menyesal kenapa pelajaran gue di sekolah dan kuliah gak semenarik atau pun sedalam itu.

Saat semakin dewasa, kehidupan Zarah di luar negeri juga membuat gue kembali mengingat Diva. Wanita modern mandiri yang memiliki kehidupan sangat menarik. Agak mengingatkan gue sama genre novel Chicklit/MetroPop gitu sebenernya. Hihihi.

Kemudian kita juga akan merasakan percikan spiritualisme layaknya saat kita membaca petualangan Bodhi dalam Akar. Teori-teori religius yang menggoyahkan jiwa namun masuk akal saat kita pikirkan secara logika.

Dan layaknya Elektra dala Petir, Zarah adalah perempuan Indonesia. Kehidupan Zarah saat di Bogor membuat kita merasakan kedekatan dengannya. Dee dengan apiknya mempertahankan identitas dan kehidupan orang Indonesia. Sehingga, dengan mudahnya gue bisa menghubungkan diri dengan Zarah dan kehidupan sekelilingnya.

Dan Partikel tetaplah memiliki keistimewaan sendiri. Partikel berhasil membuat gue kembali merinding kembali layaknya gue merinding saat gue baca artikel tentang Segitiga Bermuda di majalah Bobo, yang artinya entah berapa tahun yang lalu. Dulu gue selalu takut (dan percaya) mengenai dimensi lain, UFO, dsb. Semakin seringnya gue baca genre fantasi (yup! fantasi adalah buku yang paling sering gue baca), menggeser kepercayaan itu. Kisah-kisah itu hanya ada dalam buku. Tapi Partikel berhasil mengembalikan pengalaman gue akan kehausan mencari kebenaran fantasi-fantasi itu. Saat gue ke hutan dan liat jamur warna merah dengan totol-totol putih, gue akan mencari kemungkinan menemukan kurcaci di salah satu lubangnya. Hahaha. Silly me!!

Kemudian gue terdiam dan speechless saat halaman terakhir selesai dibaca. Gak paham lagi akan jadi apa dunia ini kalo semua orang spesial berkumpul jadi satu? Mereka bikin Power Ranger kah? Aaah, bahkan sebenernya otak gue masih bingung antara tulisan gue ini dengan apa yang gue ingin ceritakan. Baca saja lah~

P.S. : Seseorang, belikan gue buku 1, 2, dan 3 Supernova edisi cover baru doong. #Wishlist